Berawal dari Kecurigaan Warga, Praktik Perdagangan Bayi di Kota Batu Terbongkar

Berawal dari Kecurigaan Warga, Praktik Perdagangan Bayi di Kota Batu Terbongkar

BATU, SuryaNews.Net – Berawal dari kecurigaan warga terhadap perempuan berinisial DFS (26) yang tiba-tiba memiliki anak, praktik perdagangan bayi di Kota Batu, Jawa Timur (Jatim), terbongkar.

Pihak Kepolisian dari Unit PPA Polres Batu yang mengetahui informasi tersebut pada Kamis, 26 Desember 2024, langsung melakukan penyelidikan.

“Padahal diketahui oleh masyarakat setempat bahwasannya saudara Dini ini tidak pernah hamil. Kemudian Unit PPA Polres Batu melaksanakan penyelidikan. Kemudian didapatkan hasil bahwasannya anak atau bayi tersebut bukanlah anak kandungnya,” kata Wakapolres Batu, Kompol Danang Yudanto kepada wartawan, Jumat, 03 Januari 2025.

Hasil penyelidikan diketahui, DFS membeli bayi jenis kelamin laki-laki yang diperkirakan masih berusia tujuh hari itu melalui akun Facebook bernama Adopter Bayi dan Bumil.

“Kemudian bayi tersebut dibeli oleh saudara DFS dengan harga Rp 19 juta dengan transfer ke nomor rekening salah satu tersangka perempuan AS (32) asal Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur,” katanya.

Selanjutnya, setelah pembayaran diterima, DFS dan pelaku AS janjian bertemu untuk penyerahan bayi tersebut di tepi jalan raya area Kelurahan Songgokerto, Kota Batu.

“Transaksi dilakukan biasanya di jalan raya atau mencari lokasi yang sama-sama tidak diketahui, baik dari pihak komplotan penjual, maupun si pembeli, supaya tidak bisa dilacak,” ujarnya.

Hasil pengembangan Polisi, total ada enam tersangka yang terlibat dalam kasus ini, dan ditahan di Mapolres Batu, di antaranya berinisial DFS (26) sebagai pembeli bayi asal Kelurahan Songgokerto Kota Batu, AS (32) dan AI (45) asal Waru, Kabupaten Sidoarjo, sebagai penjual bayi, MK (45) asal Kabupaten Sidoarjo dan RS (21) asal Kabupaten Nganjuk sebagai sopir, serta KK (46) asal Jakarta Utara sebagai pencari bayi dari ibu kandung untuk dijual kembali.

“Jadi para tersangka, penjual, pembeli, dan perantara ini sama-sama tergabung dalam grup Facebook Adopter dan Bumil,” ujarnya.

Para pelaku dijerat dengan Pasal 83 juncto Pasal 76F Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak, dan Pasal 79 juncto, Pasal 39 Ayat 1, 2, dan 4 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dengan hukuman minimal tiga tahun dan maksimal 15 tahun.

Untuk barang bukti yang diamankan, yakni satu mobil Daihatsu Ertiga warna putih sebagai sarana beraksi, buku sehat, HP dari para tersangka, selimut yang digunakan bayi, kuali tanah atau gendok yang berisikan bunga dan tanah untuk tempat janin atau ari-ari dan surat tanda kelahiran. (*/red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *